Translate :
 
 
 
 
 
 
 

INFLASI INDONESIA TAHUN 2011

 

Informasi terkait dengan inflasi Indonesia tahun 2011 kami sajikan dari berbagai sumber berita; dengan harapan nilai dan besaran inflasi di Indonesia tahun 2011 dapat akurat sesuai dengan data dan informasi informasi dari media elektronik maupun media cetak. Bandingkan dengan Inflasi Indonesia tahun 2010 lalu ( silahkan baca disini ) serta pengertian inflasi ( silahkan baca disini )

indonesian.cri.cn || Menurut data resmi Badan Pusat Statistiks Indonesia (BPS) hari ini (4/1), tingkat inflasi Indonesia sepanjang tahun 2011 hanya sebesar 3,79 persen. Angka inflasi ini adalah yang terendah di kawasan Asia Pasifik.

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan ketiga 2011 tercatat sebesar 6,5 persen, tertinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Menurut prediksi Bank Indonesia, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 akan berada pada level 6,2 sampai 6,7 persen.

Volume ekspor Indonesia untuk tahun 2011 menembus US$ 200 miliar, dan diperkirakan telah menarik investasi sebesar US$ 27,5 miliar.

Bank Indonesia akan meningkatkan intervensi terhadap pasar finansial dan sekuritas, untuk melaksanakan kebijakan stimulus ekonomi dan mencegah kemungkinan penurunan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

suaramerdeka.com || - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut, selama tahun 2011 banyak prestasi mengesankan yang berhasil dicapai Indonesia, terutama di bidang ekonomi. Salah satunya angka Inflasi Indonesia yang pada kuartal IV tahun 2011 berada pada angka 3,79 persen, atau terendah di kawasan Asia Pasifik.
"Fakta dan angka menunjukkan banyak prestasi yang kita raih di tahun lalu, ada prestasi yang dinyatakan terbaik di tingkat ASEAN, ada pula prestasi terbaik di tingkat Asia Pasifik, dan bahkan ada prestasi yang masuk tiga terbaik di tingkat dunia," kata SBY dalam sambutannya saat pembukaan rapat paripurna kabinet di Kantor Presiden, Selasa (3/1) siang.
Selain angka inflasi, Presiden juga menyampaikan data kinerja ekonomi Indonesia pada tahun 2011. Yakni pertumbuhan ekonomi di kuartal yang sama yang mencapai 6,5 persen. "Itu tertinggi di kawasan ASEAN, bahkan berita baik lainnya adalah, ekspor kita tembus angka psikologis yaitu 200 miliar dolar AS. Ini tentu memberikan semangat pada kita," katanya.
SBY juga memaparkan beberapa capaian lain yang diraih pemerintah pada tahun 2011 lalu dalam bidang ekonomi dan realisasi anggaran. Yakni pendapatan nasional yang mencapai 102,5 persen dari yang ditetapkan pada APBNP tahun 2011. Jumlahnya Rp 1.199,5 triliun. Sedangkan belanja nasional mencapai 97,6 persen atau Rp 1.289.6 triliun.
SBY menambahkan, dalam APBN-P 2011 defisit ditetapkan sebesar 2,09 persen atau Rp 150,8 triliun. Tapi realisasinya defisit hanya tercatat 1,27 persen dengan besaran Rp 90,1 triliun. "Dari data tersebut dapat dilihat bahwa defisit anggaran pemerintah lebih kecil dari yang diperkirakan. Sedangkan pendapatan negara lebih besar dari yang diperkirakan," tandasnya.
Kepala Negara meyakinkan bila semua pihak bekerja lebih giat dan lebih sinergis, maka di tahun 2012 ini, pemerintah bisa kembali mencetak, bahkan meningkatkan prestasi itu.

bisnis.com || Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membanggakan realisasi inflasi 2011 yang bisa ditekan pada angka 3,79% dan pencapaian pertumbuhan kuartal III sebesar 6,5%.

Menurut Kepala Negara, dengan kedua prestasi itu telah berhasil menempatkan kinerja ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di kawasan Asia Pasifik.

"Sebagai contoh inflasi tercatat 3,79% ini terendah di kawasan Asia Pasific. Sedangkan pertumbuhan ekonomi kuartal III yang mencapai 6,5% itu menjadi tertinggi di antara negara-negara se ASEAN," ujarnya saat membuka Sidang Kabinet Parippurna yang dihadiri oleh anggota Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Presiden, hari ini.

Menurut dia, keberhasilan perekonomian tersebut makin lengkap dengan pencapaian realisasi ekspor yang menembus US$200 miliar atau salah satu realisasi tertinggi dalam sejarah perdagangan nasional.
"Ini memberikan semangat bagi kita bukan hanya mempertahankannya tapi meningkatkan lagi di tahun ini."

Soal keberhasilan menekan inflasi ke angka 3,79% pada tahun lalu, menurut Presiden Yudhoyono, hal itu memang bukan yang paling terbaik karena pada 2009 justru pemerintah berhasil menekan inflasi pada angka 2,78% atau terendah sepanjang sejarah republik.

Hanya saja, Kepala Negara tetap merasa banggsa dengan pencapaian itu karena berhasil dilakukan pemerintah di tengah kondisi ekonomi sejumlah negara di dunia yang justru jatuh dan menghadapi krisis.

seputar-indonesia.com || Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai positif kinerja makroekonomi pada tahun lalu dengan capaian inflasi 2011 yang rendah, hanya 3,79%.

Inflasi sebesar itu mencatatkan Indonesia sebagai negara dengan inflasi terendah di Asia-Pasifik. “Inflasi tercatat 3,79% ini terendah di kawasan Asia-Pasifik.Inflasi tahun 2009 waktu itu mencapai 2,78% terendah sepanjang sejarah republik,” papar Presiden SBY saat membuka sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta,kemarin.

Selain inflasi rendah, indikasi positif lain yang ditunjukkan perkembangan ekonomi Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi di kuartal IV yang mencapai 6,5% serta volume ekspor yang tembus USD200 miliar. Presiden mengatakan, pertumbuhan ekonomi tersebut tertinggi dibandingkan negara-negara ASEAN.

Capaian tersebut memberikan semangat untuk mempertahankan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Tanah Air pada tahun ini. Untuk defisit anggaran yang mencapai Rp90,1 triliun atau 1,27% dari total APBN-P 2011, Presiden menilai sangat baik karena jauh di bawah target yang ditetapkan yaitu sebesar Rp150,8 triliun atau 2,09%.

Kendati mengaku puas,Presiden SBY meminta semua pihak untuk tetap bekerja keras agar realisasi anggaran tahun depan,terutama untuk belanja modal dan barang, bisa lebih baik lagi.“Pembelanjaan kita mencapai 97,6% atau sama dengan Rp1.289,6 triliun. Defisit yang ditetapkan sebesar 2,09%, yang terealisasi adalah 1,27%, Alhamdulillah di bawah 1,5%,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah mensinyalir ada dua hal yang akan menjadi ancaman tingginya tekanan inflasi pada tahun ini.Keduanya yakni kebijakan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan rencana penyesuaian tarif dasar listrik (TDL). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, realisasi inflasi 2011 yang hanya 3,79% harus dipertahankan di tahun ini.

Pemerintah menyadari, hal itu tidak mudah. Sebab, pada triwulan I tahun ini pemerintah akan menerapkan rencana kebijakan pembatasan BBM bersubsidi dan rencana penyesuaian TDL.“Dengan pembatasan itu, akan ada sedikit kenaikan inflasi walaupun itu satu kali term,”ujar Hatta. Namun, Hatta belum dapat menyebutkan estimasi atau simulasi peningkatan inflasi saat kebijakan tersebut direalisasikan.

Pemerintah berjanji mengupayakan berbagai hal untuk menjaga laju inflasi. Salah satunya dengan memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna transportasi massal saat kebijakan pembatasan BBM bersubsidi dijalankan. Menurutnya, salah satu kunci menjaga tekanan inflasi tidak terlalu tinggi adalah menjaga stabilitas harga dan supply bahanpangankebutuhanpokok masyarakat.

Tahun 2011,pemerintah berhasil menjaga tekanan harga bahan pokok melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkan.“ Target inflasi 5,3% tetap kita jaga,”tambahnya. Pengamat ekonomi Universitas Atma Jaya A Prasetyantoko menuturkan, pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia dan India menggambarkan terjadinya pergeseran pusat perekonomian dunia. Anjloknya perekonomian negara-negara maju berpengaruh positif dalam menggerakkan perekonomian domestik.

“Sementara untuk inflasi yang rendah, itu karena faktor penurunan harga komoditas dunia, seperti pangan,minyak, dan emas,”kata Prasetyantoko. Dari sisi kebijakan makro, Prasetyantoko melihat, masih belum maksimal, baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia. Realisasi belanja infrastruktur yang rendah mencerminkan peran fiskal sebagai stimulus masih belum optimal.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengaku tidakkagetdenganrealisasilaju inflasi yang jauh di bawah asumsi pemerintah. Rendahnya tekanan inflasi sudah sesuai dengan prediksi Bank Indonesia. “Inflasi 3,8%, saya sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu,”ucap Darmin,Senin (2/11) malam. Darmin belum memberi komentar soal rendahnya tekanan inflasi sepanjang 2011 dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Dia beralasan, hal itu harus memperhitungkan inflasi ke depannya.

BI akan melihat terlebih dahulu tren inflasi dalam beberapa bulan mendatang.“ BI Ratetidak hanya bicara inflasi sekarang, tapi enam bulan ke depan,”tuturnya. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi selama Desember 2011 mencapai 0,57%. Sepanjang periode Januari hingga Desember 2011 dan inflasi year on year (Desember 2010 terhadap Desember 2011) mencapai 3,79%.

finance.detik.com || "Mesti banyak yang kita syukuri. Sebagai contoh Inflasi tercatat 3,79% ini terendah di kawasan Asia Pasific. Inflasi tahun 2009 waktu itu mencapai 2,78% itu terendah sepanjang sejarah republik," kata SBY saat membuka rapat kabinet di kantornya, Jakarta, Selasa (3/1/2012).

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi selama Desember sebesar 0,57%. Sementara inflasi secara keseluruhan sepanjang tahun 2011 sebesar 3,79% atau di bawah target pemerintah yang sebesar 5,65%.

BPS mencatat inflasi Desember 2011 sebesar 0,57% dengan inflasi tahun kalender 3,79% dan inflasi year on year 3,79%. Untuk inflasi inti bulan Desember sebesar 0,28% dan inflasi inti tahunan sebesar 4,34%. Sebenyak 66 kota mengalami inflasi, inflasi tertinggi terjadi di Kupang 2,19% dan terendah di Tanjung Pinang 0,02%.

Selain inflasi, SBY juga bangga karena pertumbuhan ekonomi Indonesia terakhir di kuartal III-2011 mencapai 6,5% yang merupakan tertinggi di kawasan ASEAN, serta nilai ekspor Indonesia yang berhasil menembus US$ 200 miliar. "Ini memberikan sprit (semangat) bagi kita bukan hanya mempertahankannya tapi meningkatkan lagi di tahun ini," imbuh SBY.

Lalu, soal realisasi anggaran di 2011, SBY mengatakan telah mendapatkan laporan dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang mengatakan realisasi pendapatan negara di 2011 mencapai Rp 1.999,5 triliun atau 102,5% dari target dalam APBN-P 2011. Kemudian nilai belanja pemerintah hingga akhir tahun menurut SBY mencapai 97,6% dari target APBN-P 2011 atau Rp 1.289,6 triliun.

KOMPAS.com || Peneliti ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, mengatakan, pencapaian inflasi yang rendah selama tahun 2011, yakni 3,79 persen, bukan hanya sekadar dari kinerja yang baik. Ada sejumlah pengorbanan yang membuat inflasi itu rendah.

"Penyebab inflasi yang rendah ini sebenarnya pengorbanannya juga banyak, yaitu pertama intervensi untuk apresiasi nilai tukar, penundaan peningkatan harga pokok BBM bersubsidi, dan juga pelemahan dari ekspor," ujar Deni dalam diskusi Tinjauan Ekonomi dan Politik 2012, di Jakarta, Kamis (12/1/2012).

Mengenai ekspor, Deni bilang, apresiasi atau penguatan nilai tukar rupiah menjadi penyebab daya saing ekspor yang melemah.

Sementara itu, kata Deni, nilai tukar rupiah yang stabil, tidak lain dihasilkan dari kinerja Bank Indonesia. Oleh sebab itu, ia pun tetap mengapresiasi BI yang mampu menjaga nilai tukar dan suku bunga yang relatif stabil dan mendukung perekonomian.

Deni pun menyimpulkan, inflasi yang terendah dalam 20 bulan terakhir ini bukan hanya sekadar dihasilkan dari kinerja yang baik, melainkan ada biaya yang dikeluarkan. "Jadi dari biaya inflasi yang rendah ini juga ada. Jadi, itu bukan hanya sekadar kinerja yang baik," tegas dia.

padangekspres.co.id || Bambang Widodo Umar - Pembangunan nasional yang menekankan pada pertumbuhan menunjukkan penampilan yang mengesankan. Pada akhir tahun 2011 inflasi bisa ditekan dengan tingkat pertumbuhan GNP mencapai 6,5 % dan Indonesia dinyatakan sebagai negara laik investasi.
Hasil pembangunan itu telah meningkatkan citra negara dan bangsa Indonesia. Namun dibalik itu pembangunan yang berlangsung sejak reformasi ‘98 cenderung kurang mengarah pada usaha pemerataan, akibatnya timbul kekecewaan terutama pada lapisan masyarakat bawah.

Keprihatinan
Berbagai peristiwa selama bulan terakhir di 2011 telah membuat keprihatinan kita semakin sulit dipikirkan secara logis dan dijawab hanya dengan logika.
Pertanyaan, mengapa dan mengapa menjadi seperti ini, seolah tanpa ada upaya untuk menemukan jawabannya, hanya akan menciptakan kebuntuan turun-temurun, sementara peristiwa yang sama tetap langgeng, berulang dan sambung-menyambung? Karenanya, pertanyaan bukan lagi tentang “ada apa dengan politik kita” atau “ada apa dengan negara kita”, tetapi sudah sampai kepada hal yang paling mendasar, ada apa dengan “manusia” (Indonesia)? Ada apa dengan diri kita? Bukankah politik, ekonomi, budaya, hukum dirumuskan manusia dan seharusnya juga dikendaikan oleh manusia, kok malah sebaliknya? Mengapa? Seperti apakah nilai manusia itu di hadapan politik, kekuasaan, uang? Sebaliknya, apa nilai politik, kekuasaan, uang di hadapan manusia?

Kekerasan terjadi di mana-mana dalam segala bentuk (tertutup, terbuka), horizontal-vertikal/struktural, pada dan antar semua generasi, di kota, di desa, di lingkungan agama, di pusat pendidikan, di pemerintahan, pendeknya komplit! Sungguh sangat memprihatinkan. Para pelaku tetap bersemangat karena seolah mendapat “dukungan” melalui “pembiaran” oleh negara; yang menjadi “penyebab” sering dikatakan masih sulit dibuktikan secara obyektif, transparan melalui hukum, sementara yang kena tampiasnya, tetap saja pasrah pada status sebagai “korban” dengan segala konsekuensinya, seolah menjadi korban yang dikorban hukum.

Kasus GKI Taman Yasmin yang masih terbuka lebar, Petani tebu yang demo di depan kantor Menteri Perindustrian, Papua yang masih tetap bergejolak, pembantaian di Lampung, kasus Lapindo, kasus di Pelabuhan Sape Bima, dan banyak lagi. Sementara proses hukum kasus Nazaruddin, Nunun, Gayus, Century, dan masih banyak lagi bergulir dengan penuh keanehan bin ajaib tapi nyata. Kalaupun ada yang ditangkap dan ditahan, mereka tetap bisa hidup enak, karena di dalam tahanan pun kebutuhan hidup mereka bisa tercukupi, keluarga mereka masih bisa hidup lebih dari cukup, terutama bila diukur dengan uang dan kekuasaan.
Sementara, korban lumpur di Sepanjang Jawa Timur, Petani tebu dan petani-petani lainnya, petani sawit, keluarga para korban pembantaian di Lampung harus menahan penderitaan berlipat ganda dari waktu ke waktu. Masyarakat Papua yang menuntut keadilan masih tetap diseparatiskan, teraniaya, bahkan mati sia-sia. Warga GKI Taman Yasmin yang menuntut keadilan hukum atas hak mereka masih terisolir di setiap hari Minggu ketika sedang menjalankan ibadah. Komunitas Ahmadiyah sampai sekarang masih merasa tidak aman, bahkan masih ada yang diintimidasi. Masyarakat - seperti di Aceh, di Papua, di Sumatera Utara, di Mesuji Lampung, di Bima selalu kena teror, bahkan kemarin pun sampai dibantai. Padahal kalau masa Pilkada atau Pemilu mereka seolah-olah “dihargai” dengan janji demi memenangkan kepentingan politik partai, namun setelah menang janji-jani itu menguap begitu saja.

Kasus Sondang Hutagalung harusnya menjadi salah satu “titik refleksi” penting di tahun 2011. Sulit dibayangkan, bagaimana Sondang -dalam kesendiriannya-melakukan rencana bunuh diri dan memutuskannya secara tegas, tanpa bimbang dan ragu. Ia lakukan bukan saja di depan istana Presiden Republik Indonesia, tapi terbuka di depan publik di ibu kota Republik Indonesia, bahkan, persis di pusat lingkaran berbagai symbol kekuasaan Negara Republik Indonesia, mulai dari Pemerintahan (Istana, perkantoran Presiden dan wakil Presiden), Keamanan (Markas Besar TNI), MONAS sampai tiga simbol agama (Mesjid Istiqlal, Kathedral, Gereja Immanuel) dan symbol “rakyat” (stasiun Gambir).
Pada titik tempat dia melakukan bunuh diri itulah sebenarnya terjadi pertautan antara “ruang negara/kekuasaan dan rakyat/yang dikuasai”; “ruang etis-teologis dan non teologis”. Tapi, apa dinyana? Cukuplah dengan ucapan turut berduka cita yang sangat mendalam dari Presiden RI. Terkesan - boleh jadi saya salah- message yang disampaikan Sondang dengan keputusannya itu belum terdeteksi secara tepat. Pertanyaannya, bukankah Sondang dengan aksinya itu - sebaliknya - mau mengatakan kepada Presiden, “saya berdukacita sangat mendalam melihat kenyataan kehidupan bangsa dan Negara RI sekarang ini atas kepemimpinan Bapak Presiden.” Jika demikian sebenarnya yang berduka adalah Sondang, Sondang berduka atas nama rakyat Indonesia.

Tetap Semangat
Terjadinya masalah-masalah sosial di masyarakat itu dimungkinkan ada hubungan antara orientasi pembangunan yang mengejar pertumbuhan dengan birokrasi pemerintahan dan proses penegakan hukum yang karut-marut. Sejauh itu, kalau mengurai lebih dalam dan lebih jauh lagi tentang segala sesuatu yang terjadi di negara ini, bisa jadi akan membuat kita frustasi, lemas, capek, dan hopeless. Tidak! Saya yakin masih banyak di antara warga masyarakat yang memiliki komitmen kepada keadilan, kepada emoh kekerasan, kepada solidaritas yang sungguh-sungguh. Saya percaya, masih banyak diantara warga yang tetap siap berjuang tanpa mengenal lelah untuk membela keadilan dan perdamaian dengan cara yang beradab, berbudaya dan tanpa kekerasan.
Kedengaran idealis, tapi itulah harapan banyak orang. Itulah yang sedang dan harus dilakukan ke depan. Kesanalah semua harapan itu mengalir. Persoalannya, bagaimana agar mengalirnya benar, lancar, tidak tersumbat dan bisa mencapai tujuan?
Untuk itu kita harus tetap semangat dengan apa yang sudah dan sedang kita kerjakan selama ini, yang tidak saja terbatas pada soal, bagaimana membangun kehidupan bersama dalam perbedaan akan tetapi juga bagaimana dalam perbedaan kita bisa tetap bersama-sama melakukan sesuatu yang konkrit untuk menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan, persoalan kebangsaan.
Ya, kita harus maju dan kritis terhadap persoalan-persoalan di atas terutama dengan persoalan hukum yang sedang berlangsung atau yang akan menyusul. Ini bisa kita lakukan dengan jalan bersama, berjuang bersama-sama dan tetap mengembangkan budaya “dialog” supaya ada kontrol dan kritik terhadap diri kita sendiri juga. Kita perlu menulis dan menerbitkan, menyebarluaskan pikiran-pikiran kritis -sederhana sekalipun- supaya bisa memberi semangat kepada yang lain, ada banyak kekuatan positif yang hidup di antara banyak hal yang masih menjadi keprihatinan kita.

Hasil pembangunan memang tampak menakjubkan, namun cenderung counter productive bahkan kontradiktif. Bisa jadi hal ini akibat dari tumpang tindihnya kebijakan yang tidak sinkron satu sama lain. Secara meluas hal itu telah menimbulkan kemerosotan di segala kehidupan, tetapi karena kemerosotan sudah merata di mana-mana akhirnya tidak mencemaskan lagi. Orang jadi masa bodoh, cuek, pasrah, nrimo yang mengarah pada fatalism.
Mekanisme pertahanan sosial (social defence mechanisme) dikacaukan dengan persekongkolan (complicity) antara kekuatan politik (elit) dan kekuatan ekonomi (konglomerat). Involusi masuk dalam teknik-teknik asal mendapatkan uang. Mencari nafkah secara tidak halal merasuk dalam sendi-sendi kehidupan karena mabuk sukses, mabuk harta, mabuk jabatan, dan mabuk kuasa. Kepemimpinanpun juga mengalami erosi (erotion patron clien) dan berbagai masalah itu mengarah ke “idiopatik”, sulit menemukan penyebab masalah yang sebenarnya.

Mudah-mudahan di tahun yang akan datang banyak hal akan semakin baik, banyak hal semakin jelas, tegas dan berpihak pada keadilan dan kebenaran tanpa kekerasan.

okezone.com || PEMERINTAH kembali men dapatkan kado istimewa awal 2012 ini. Lembaga pemeringkat, Moodys Investors Service, menganugerahi Indonesia status investment grade, persis seperti yang diberikan Fitch Ratings akhir tahun lalu.

Tak lama lagi, Standard & Poor’s juga diyakini akan mengalungi Indonesia gelar serupa sehingga tidak diragukan lagi keabsahan Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Perbaikan peringkat investasi ini tentu tidak lepas dari beberapa prestasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir seperti pencapaian pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terus menurun, defisit fiskal yang terkendali, sektor perbankan yang dianggap jauh lebih kokoh pascakrisis 1998, dan inflasi yang terjaga.

Dengan situasi yang sangat bagus ini, pemerintah yakin sepenuhnya ekonomi (khususnya investasi) akan makin melaju pada tahun-tahun mendatang. Pemerintah tetap optimistis meskipun saat ini ekonomi global sedang memasuki musim pancaroba akibat krisis di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Evaluasi Investasi 2011
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 19 Januari 2012 telah memublikasikan kinerja investasi 2011. Secara umum realisasi investasi tahun lalu, domestik dan asing,meningkat 20,5 persen ketimbang 2010, yakni senilai Rp251,3 triliun (USD27,64 miliar).Peningkatan ini tentu saja sangat mengejutkan di tengah tekanan ekonomi global yang mulai terasa pada pertengahan 2011.

Penyumbang terbesar investasi asing berturut- turut adalah Singapura, Jepang,AS,Belanda,dan Korea Selatan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, investasi asing masih menjadi sumber dominan investasi di Tanah Air,dengan menyumbang 69,8 persen pada 2011. Sedangkan investasi domestik hanya 30,2 persen. Donasi investasi asing ini agak menurun sedikit ketimbang 2010 yang berkontribusi sekitar 70,1 persen.Dari segi lokasi, investasi itu kebanyakan berada di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Papua, dan Jawa Timur. Dalam beberapa aspek, kinerja investasi 2011 bisa dikatakan bagus.

Sementara sektor yang paling diminati investor asing di Indonesia adalah transportasi, pergudangan, dan komunikasi; pertambangan; listrik, gas,dan air (LDA); baja, mesin, dan elektronik; serta kimia dan farmasi (The Wall Street Journal Asia, 20-24/1/2012). Menariknya, pertumbuhan investasi asing pada 2011 di Indonesia lebih tinggi daripada China yang hanya tumbuh 9,72 persen. Pertumbuhan investasi asing China pada 2011 itu merosot jauh ketimbang tahun sebelumnya yang sempat tumbuh 17,4 persen (2010). Penurunan itu antara lain dipicu oleh melemahnya investasi dari AS yang turun 26,1 persen pada 2011 (China Daily, 20- 26/1/2012).

Melihat perbandingan ini tentu menggembirakan karena selama ini China menjadi negara tujuan investasi asing terpenting di jagat ini dalam beberapa tahun terakhir. Ditambah dengan status laik investasi, tentu wajar apabila pemerintah percaya tahun ini pertumbuhan investasi akan lebih hebat lagi. Sungguh pun begitu,terlalu dini mengatakan prospek investasi Indonesia ke depan akan cerah seperti yang diyakini pemerintah.Pada 2011 posisi daya saing Indonesia (yang disiarkan oleh World Economic Forum/WEF) justru menurun dari peringkat ke-44 (2010) menjadi ke-46.

Demikian pula dalam laporan Doing Business 2012, peringkat Indonesia merosot dari 121 (2010) ke-129 (2011). Aspek-aspek yang sangat mengganggu daya saing dan iklim investasi di Tanah Air adalah inefisiensi birokrasi, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur. Inefisiensi birokrasi membuat perizinan usaha sangat mahal, sangat jauh ketimbang Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Korupsi juga membuat biaya perizinan tergolong sangat mahal di Asean, hanya lebih baik ketimbang Laos dan Timor Leste. Demikian pula ketersediaan infrastruktur (listrik, jalan, pelabuhan, dan lain-lain) membuat investor menyerah untuk merealisasikan investasi meskipun bank sudah bersedia mendanai.

Agenda Sistematis Investasi
Lepas dari kelemahan tersebut, terdapat sekurangnya tiga masalah pokok terkait perkembangan investasi di Indonesia akhir-akhir ini. Pertama, dominasi PMA masih terjadi, bahkan dalam jumlah yang tergolong luar biasa (70 persen). Proporsi ini memang sudah mengalami sedikit penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tapi secara umum tetap menempatkan investasi domestik (PMDN) sebagai pelengkap saja.

Situasi ini tentu mencemaskan, bukan hanya dari sisi kedaulatan ekonomi, melainkan juga dari aspek nisbah ekonomi yang menjadi bagian ekonomi dalam negeri. Jamak diketahui, nisbah dari kegiatan ekonomi (investasi) pasti akan jatuh kepada pemilik, sedangkan pekerja atau pihak lain hanya memperoleh gaji. Bisa saja investasi itu berorientasi ekspor dan tercatat dalam statistik neraca perdagangan sebagai pendapatan Indonesia. Namun, dalam realitasnya itu bukan milik orang/korporasi Indonesia dan sewaktu-waktu pendapatan itu bisa direpatriasi ke luar negeri.

Kedua, masa depan Indonesia diyakini berada di daerah, khususnya di luar Pulau Jawa. Kepercayaan ini tumbuh melihat realitas bahwa seluruh sumber daya ekonomi Pulau Jawa telah terpakai, terutama yang terkait sumber daya alam. Dengan realitas ini Indonesia perlu bergegas membangun luar Pulau Jawa.Celakanya, investasi tiap tahun masih terkonsentrasi ke Pulau Jawa seperti yang terjadi pada investasi 2011, baik PMA maupun PMDN.Tanpa ada upaya radikal untuk membelokkan lokasi investasi ini, instrumen investasi justru menjadi sumber masalah ekonomi nasional.

Ketiga, data-data juga memperlihatkan bahwa amat sedikit investasi yang mencoba mengolah sumber daya alam sehingga nilai tambah kecil.Tragisnya lagi, di antara investasi yang mengolah komoditas sumber daya alam tersebut dilakukan oleh asing sehingga nilai tambah diambil oleh mereka.Pemerintah tentu harus membuat peta jalan untuk memotong lingkaran masalah yang tidak menguntungkan ini. Dengan mencermati soal-soal tersebut, beberapa langkah jangka pendek dan menengah mesti dikerjakan agar investment grade yang diperoleh tidak malah menjadi petaka.

Terpenting, pemerintah seyogianya merumuskan upaya-upaya sistematis untuk mendongkrak peran investasi domestik sehingga pada 2015 sekurangnya kontribusinya meningkat menjadi 55-60% dari total investasi.Berikutnya menyusun regulasi investasi yang lebih ketat di Jawa, sekaligus memberikan insentif yang besar untuk investasi di luar Jawa. Serangkaian insentif fiskal dan nonfiskal harus dikerahkan pemerintah, termasuk membangun infrastruktur secara besar-besaran.

Terakhir, menjalankan konsep yang sudah disusun cukup lama mengenai pohon industri yang berbasis bahan baku lokal (pertanian dan sumber daya alam). Melalui serangkaian langkah-langkah sistematis ini diharapkan posisi sebagai negara laik investasi benar-benar menjadi kado yang indah bagi warga negara. AHMAD ERANI YUSTIKA ( Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya )

antaranews.com || Jakarta (ANTARA News) - Seminar yang digelar sebuah harian ekonomi nasional dengan tema "Pasca Investment Grade: What Next?" pada Rabu (18/1) di Jakarta, tanpa disangka-sangka sepertinya `nyambung` dengan keputusan yang dikeluarkan Moody`s lembaga rating internasional pada siang harinya.

Moody`s Investor Service dari kantornya di Singapura mengabarkan telah menaikkan peringkat utang pemerintah Indonesia baik pinjaman dalam dan luar negeri dari Ba1 menjadi Baa3 dengan "outlook" stabil yang artinya masuk dalam tingkat layak investasi atau investment grade.

Dalam siaran pers yang dikutip dari situs laman Moody`s disebutkan bahwa kenaikan peringkat Indonesia ditetapkan mengingat peringkat keuangan pemerintah Indonesia yang masih sejalan dengan negara-negara di peringkat Baa.

Moody`s menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan terhadap krisis ekonomi global, kebijakan pemerintah yang dapat mengatasi kerentanan finansial, serta sistem perbankan yang lebih kuat menghadapi tekanan.

Kekuatan perekonomian Indonesia di tengah krisis keuangan eksternal dilihat dari kemampuan untuk melakukan investasi, peningkatan rencana pembangunan infrastruktur serta sistem keuangan dikelola dengan baik.

Pertumbuhan ekonomi tersebut juga diikuti dengan kemampuan pembayaran utang eksternal, peningkatan investasi langsung (FDI) dan perkiraan tingkat inflasi yang semakin stabil dan rendah.

Dengan keputusan Moody`s ini, Indonesia berarti sudah mendapatkan dua peringkat layak investasi dari Moody`s dan Fitch yang pada Desember lalu menaikkan rating Indonesia dari BB+ ke BBB-.

Masih ada satu lembaga pemeringkat internasional yaitu Standard and Poors (S&P) yang belum meningkatkan peringkat Indonesia ke `investment grade`, meski diyakini rating itu akan segera didapat Indonesia pada tahun ini.


Bukan Tujuan Akhir
Dalam kesempatan seminar di atas, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution memaparkan bahwa meningkatnya rating Indonesia menjadi "investment grade" bukanlah keberhasilan yang diraih secara tiba-tiba, tetapi setelah menapaki perjalanan yang panjang.

Pada masa krisis tahun 1998 rating Indonesia anjlok tajam 6 notch hanya dalam kurang dari setahun yaitu dari BBB- menjadi B- dan berdampak pada merosotnya kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik, sehingga terjadi gelombang penarikan modal dan terhentinya arus modal masuk khususnya dalam bentuk utang luar negeri swasta.

Di pihak lain, perekonomian mengalami kontraksi yang cukup dalam minus 13 persen, sementara inflasi melonjak hingga double digit. Industri perbankan kita pun harus direkapitalisasi dengan biaya yang sangat besar.

Baru setelah selama 14 tahun melakukan reformasi di bidang ekonomi, keuangan, dan politik, meningkatnya rating Indonesia dari BB+ ke BBB- pada akhir tahun 2011 lalu mengkonfirmasi bahwa Indonesia saat ini dinilai layak menjadi tempat investasi.

"Tentu ini adalah sebuah pencapaian yang membesarkan hati karena terjadi pada saat banyak rating negara lain khususnya di Eropa yang justru diturunkan. Kondisi paradoks tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa di tengah meningkatnya ketidakpastian kondisi global belakangan ini, perekonomian kita tetap memiliki ketahanan yang cukup baik," katanya.

Pencapaian tersebut, lanjut Darmin juga merupakan buah dari hasil kerja keras dan jalinan kerjasama di antara semua pemangku kebijakan, para pelaku di dunia usaha dan sektor keuangan, serta masyarakat secara luas.

Namun, Darmin melihat meski pencapaian investment grade akan memberikan keuntungan bagi perekonomian, hal itu bukanlah tujuan akhir pembangunan ekonomi Indonesia karena justru merupakan tantangan untuk memacu pertumbuhan ke tingkat potensialnya sekitar 7 persen.

"Saya memandang, kita memiliki peluang untuk mencapainya apabila kita dapat memanfaatkan berbagai potensi besar yang kita miliki dan secara bersamaan menuntaskan berbagai persoalan struktural di tingkat mikro yang masih terus menjadi beban bawaan (perennial) dari tahun ke tahun," kata Darmin.

Pengamat ekonomi Fauzi Ichsan mengatakan peringkat "investment grade" akan sangat membantu perekonomian Indonesia seperti terlihat dari membaiknya indeks saham di BEI setelah kenaikan rating tersebut, dan diperkirakan akan terus meningkat pada tahun ini.

Beberapa sektor ekonomi lain, lanjutnya juga diperkirakan akan terus membaik seperti rasio utang bruto, neraca pembayaran dan tingkat kemiskinan dan pengangguran.

"Yang jelas pasar keuangan Indonesia akan terbantu kenaikan peringkat risiko Indonesia menjadi investment grade," katanya.


Infrastruktur
Darmin Nasution menilai permasalahan struktural di bidang ekonomi masih sangat luas dan harus segera diperbaiki terutama di bidang yang paling menghambat di mata pelaku usaha yaitu bidang infrastruktur, baik infrastruktur keras maupun lunak atau kualitas SDM.

Menurutnya, infrastruktur keras mencakup infrastruktur teknis seperti jalan raya, pelabuhan, dan listrik, sedangkan infrastruktur lunak mencakup infrastruktur sains, kesehatan dan lingkungan hidup, serta pendidikan, termasuk di dalamnya lingkungan yang kondusif bagi berkembangnya inovasi.

Dijelaskannya, kemajuan implementasi kebijakan di sisi struktural ini akan menjadi faktor kunci terhadap proses menurunnya inflasi karena akan memperbesar kapasitas perekonomian.

Perbaikan struktural ekonomi ini, tentunya akan mendukung kondisi demografi Indonesia yang sangat menguntungkan dalam hal ukuran pasar domestik yang besar, transisi demografi yang didominasi oleh penduduk usia produktif, maupun perilaku rasional masyarakat dalam mengelola tingkat konsumsinya.

"Perlu dicatat bahwa momentum demografi yang kondusif di Indonesia tersebut diperkirakan hanya akan berlangsung hingga tahun 2025- 2030. Oleh karena itu, langkah-langkah perbaikan strukural yang signifikan sebelum datangnya periode tersebut akan sangat krusial dalam menentukan sustainabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dalam jangka menengah panjang," katanya.

Darmin berpendapat rating "investment grade" yang didapat Indonesia juga harus diikuti optimalisasi dan efisiensi di semua sektor ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa mencapai titik potensial yang bisa tercapai.

"Pencapaian ekonomi kita sudah bagus, tetapi itu tidak optimal dan tidak efisien, bukan cuma di bank tetapi di seluruh sektor ekonomi," katanya.

Menurut Darmin, BI telah menyusun berbagai langkah di bidang moneter, sistem pembayaran, dan perbankan untuk meningkatkan efisiensi yang diharapkan bisa menciptakan keseimbangan pertumbuhan ekonomi yang lebih optimal.

Dikatakannya, sebagai upaya mendorong efisiensi, BI berusaha untuk menurunkan suku bunga perbankan. Penurunan suku bunga itu bisa terjadi jika keseimbangan dicapai pada harga yang rendah.

Tidak efisiennya ekonomi Indonesia, katanya, juga terlihat dari transaksi berjalan yang mulai kwartal empat 2011 sudah negatif akibat lebih tingginya impor dibanding ekspor dan kondisi ini akan terus terjadi pada 2012.

"Pada 2012 sepanjang tahun akan terjadi defisit transaksi berjalan, sehingga harus diupayakan transaksi modal harus surplus untuk menutupnya melalui penanaman modal asing," katanya.

Negatifnya transaksi berjalan, lanjutnya, merupakan kelemahan struktur ekonomi Indonesia karena industri bahan baku dan bahan modal sangat sedikit. Dengan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen, maka impor tumbuh lebih cepat dari ekspor, sehingga transaksi berjalan menjadi defisit.

Dua peringkat layak investasi, memang harus dilihat merupakan pencapaian kinerja ekonomi Indonesia yang dicapai dengan kerja keras berbagai pihak dalam waktu yang panjang.

Namun, berbagai persoalan masih banyak menghadang yang bisa membuat peringkat layak investasi itu hanya sebuah sebutan saja, karena kesempatan yang terbuka tidak bisa dimanfaatkan sepenuhnya dengan memperbaiki berbagai hambatan itu.

 

ARTIKEL TERKAIT
  Perkiraan Inflasi tahun 2012 oleh para teknisi dan pengamat ekonomi dan pengamat politik

 

 

Salam,

Dwi Hartoyo, SP

REFERENSI
1. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/01/03/105865/Inflasi-Indonesia-Terendah-Se-Asia-Pasifik
2. http://www.bisnis.com/articles/presiden-banggakan-prestasi-pertumbuhan-and-inflasi-2011
3. http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/457360/
4. http://indonesian.cri.cn/201/2012/01/04/1s124247.htm
5. http://finance.detik.com/read/2012/01/03/152544/1805676/4/sby-bangga-inflasi-ri-terendah-di-asia-pasifik?991101mainnews
6. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/01/27/17300731/.Remarkable.Indonesia.Digaungkan.di.Davos
7. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/01/12/12172086/Ini.Pengorbanan.hingga.Inflasi.Rendah
8. http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=1422
9. http://economy.okezone.com/read/2012/01/24/279/562108/kado-ekonomi-awal-tahun
10. http://www.antaranews.com/berita/293460/langkah-lanjutan-setelah-investment-grade